Memimpikan pekerjaan yang lebih bermanfaat
Beberapa waktu terakhir terbersit keinginan untuk mencari
pekerjaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat
dan banyak orang, salah satunya dengan niat dan harapan agar diri dan hidup
ini lebih berkah. Karena sejak awal
bekerja hingga detik ini pekerjaan saya hanya memberikan benefit bagi
perusahaan di mana saya bekerja juga perusahaan client. Walau tidak saya
pungkiri dan juga harus saya syukuri banyak juga ilmu dan pertemanan yang saya
dapat dari pekerjaan ini.
Semakin ke sini keinginan tersebut semakin sering muncul,
dan hari ini kembali hadir. Keinginan yang mungkin tidak terlalu sulit jika
tidak dibatasi oleh kebutuhan untuk tetap mendapatkan gaji yang bisa mencukupi
kebutuhan sehari-hari juga cicilan yang masih harus dibayarkan sepuluh tahun
lagi.
Maka jelas saat ini menjadi pekerja sosial atau relawan
yang bekerja dengan ikhlas dan sepenuh hati tanpa digaji belum bisa menjadi
pilihan hidup yang akan dijalani sehari-hari. Karena walau yakin ALLAH Maha
Pemberi Rezeki dan masih ada suami yang memang kewajibannya menafkahi anak
istri, namun dari perhitungan matematika kami masih banyak nomimal yang harus
cari dengan sama-sama bekerja baik suami maupun istri.
Profesi ideal yang ada di kepala adalah menjadi dosen.
Namun apadaya diri ini hanya seorang lulusan S1 dengan IP dan juga tabungan
yang sangat pas-pasan. Maka berhenti bekerja untuk fokus kuliah melanjutkan ke
jenjang S2 tentu bukan pilihan yang memungkinkan karena ada uang kuliah yang
harus dibayarkan. Kuliah sambil bekerja pun bagi saya menjadi pilihan yang
sulit selain karena saya bekerja di dunia periklanan yang tidak jelas jam
kerjanya dan seringkali mengharuskan saya lembur, ada anak-anak di rumah yang sehari-haripun begitu sedikit waktu bertemu
ibunya.
Mencari beasiswa? Bukannya tidak ingin.. sangat ingin, malah. Siapa sih yang tidak mau kuliah gratis? Tapi sebagaimana saya sebutkan tadi, IP saya sangat pas-pasan. Malah cenderung kurang. Sehingga tidak memenuhi kriteria awal untuk mendaftarkan diri sebagai penerima beasiswa. Belum lagi ditambah usia yang sudah beberapa tahun lebih dari usia yang disyaratkan, sehingga dari dua kriteria tersebut saja jelas saya tidak akan lolos.
Profesi berikutnya yang ada di kepala adalah menjadi seorang guru di tingkat yang jenjangnya lebih rendah dari pada universitas - entah guru TK, SD, SMP, ataupun SMA. Walau sempat muncul kegalauan berkaitan dengan jam kerjanya yang sama dengan jam sekolah anak. Sehingga ada kekhawatiran akan kehilangan waktu mempersiapkan dan mengantar anak berangkat sekolah karena di waktu yang sama sebagai guru tentunya saya juga sudah harus berangkat atau mungkin sudah harus sampai di sekolah. Kecuali jika saya menjadi guru di sekolah yang sama dengan tempat anak saya menuntut ilmu, mungkin waktu bertemu anak bisa dikompensasikan saat jam istirahat. Tapi mungkin kelak kegalauan tersebut bisa saya kesampingkan selama selepas waktu sekolah saya masih mempunyai waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak di rumah dan menemani mereka belajar.
Berdasarkan obrolan dengan kakak hari ini, ternyata
pekerja sosial juga ada yang mendapatkan gaji bulanan seperti karyawan
kantoran. Tapi kebanyakan sistem kerjanya by project, jadi harus siap jika sewaktu-waktu
proyek tersebut harus berhenti baik sementara ataupun selamanya. Nah itu
tentunya jadi satu hal yang sedikit banyak masih harus dipertimbangkan
matang-matang oleh saya yang masih membutuhkan pendapatan rutin tiap bulannya.
Jadi.. apakah profesi yang akan saya jalani dalam
waktu dekat ini ? Wallahu alam.. Bismillah, dimulai dengan niat, mudah-mudahan
terbuka jalan kedepannya dan dimudahkan prosesnya. Aamiin.
Comments
Post a Comment